RSS

Menengadahkan Tangan Dalam berdoa

08 Sep

Tanya:

Kapankah kita disyariatkan untuk menengadahkan tangan ketika berdoa? (Sujono, Yukum Jaya)

Jawab:

Pada dasarnya mengangkat dan menengadahkan tangan dalam berdoa merupakan etika yang baik dan memiliki keutamaan yang mulia serta menjadi salah satu penyebab terkabulnya doa.

Hal ini didasarkan pada keumuman riwayat yang shahih berikut ini:

عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Rabb kalian Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya) dikembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa”. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa 2/78 No. 1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68 No 3556. Musnad Ahmad 5/438. Dishahihkan  Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud].
Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa lafazh hayiyyun berasal dari lafazh haya’ yang bermakna malu. Allah memiliki sifat malu yang sesuai dengan keagungan dzat-Nya  kita beriman tanpa menggambarkan sifat tersebut. Lafazh kariim yang berarti Maha  Memberi tanpa diminta dan dihitung atau Maha Pemurah lagi Maha Memberi yang tidak  pernah habis pemberian-Nya, Dia dzat yang Maha Pemurah secara mutlaq. Lafazh “an  yarudahuma shifron” artinya kosong tanpa ada sesuatu. (Mur’atul Mafatih  7/363).

Namun dalam riwayat lain disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ

Dari Anas Radhiyalahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam berdoa kecuali dalam shalat Istisqa.” [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa’ 2/12. Shahih Muslim, kitab Istisqa’ 3/24].
Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa hadits tersebut tidak menafikan berdoa dengan mengangkat tangan akan tetapi menafikan sifat dan cara tertentu dalam mengangkat tangan pada saat berdoa, artinya mengangkat tangan dalam doa istisqa’ memiliki  cara tersendiri dengan cara mengangkat tangan tinggi-tinggi tidak seperti  pada saat doa-doa yang lain yang hanya mengangkat kedua tangan sejajar dengan wajah  saja.
Adapun hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari ‘Amarah bin Ruwaibah bahwa dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tangan dalam berdoa, lalu mengingkarinya kemudian berkata : “Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak lebih dari ini sambil mengisyaratkan jari telunjuknya. Imam At-Thabari  meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa disunnahkan berdoa dengan mengisyaratkan jari  telunjuk.
Akan tetapi hadits di atas terjadi pada saat khutbah Jum’at dan bukan berarti hadits tersebut menafikan hadits-hadits yang menganjurkan mengangkat tangan dalam  berdoa. [Fathul Bari 11/146-147].
Akan tetapi dalam masalah ini terjadi kekeliruan, sebagian orang ada yang berlebihan dan tidak pernah sama sekali mau meninggalkan mengangkat tangan, dan sebagian  yang lainnya tidak pernah sama sekali mengangkat tangan kecuali waktu-waktu khusus  saja, serta sebagian yang lain di antara keduanya, artinya mengangkat tangan pada  waktu berdoa yang memang dianjurkan dan tidak mengangkat tangan pada waktu berdoa  yang tidak ada anjurannya.

Imam Al-‘Izz bin Abdussalam berkata bahwa tidak  dianjurkan mengangkat tangan pada waktu membaca doa iftitah atau doa diantara dua sujud. Tidak ada satu haditspun yang shahih yang membenarkan pendapat tersebut. Begitupula tidak disunahkan mengangkat tangan tatkala membaca doa tasyahud dan tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan kecuali waktu-waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengangkat tangan. [Fatawa Al-Izz bin Abdussalam hal. 47].
Syaikh Abdul Aziz Bin Bazz berkata: “Tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya pada waktu berdoa seperti berdoa pada  waktu sehabis salam dari shalat, membaca doa di antara dua sujud dan membaca doa  sebelum salam dari shalat serta pada waktu berdoa dalam khutbah Jum’at dan Idul fitri,  tidak pernah ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam mengangkat tangan pada waktu waktu tersebut.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan kita dalam segala hal, apa yang ditinggalkan dan apa yang dilaksanakan semuanya suatu yang terbaik buat umatnya, akan tetapi jika dalam khutbah Jum’at khatib membaca doa istisqa’,  maka dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa sebagaimana yang telah dilakukan  oleh Rasulullah Shallallah ‘alaihi wa sallam. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa’, bab Jamaah Mengangkat Tangan Bersama Imam 2/21].
Dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat sunnah tetapi lebih baik jangan rutin melakukannya karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak rutin melakukan perbuatan tersebut dan seandainya demikian, maka pasti kita menemukan riwayat dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih para sahabat selalu menyampaikan segala tindakan dan ucapan beliau baik dalam keadaan mukim  atau safar.” [Fatawa Muhimmmah hal. 47-49].
Dan tidak dianjurkan mengangkat tangan dalam membaca doa thawaf sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkali-kali melakukan thawaf tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa beliau berdoa mengangkat tangan pada saat thawaf. Sesuatu yang terbaik adalah mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sesuatu yang terburuk adalah mengikuti perbuatan bid’ah.

Adapun cara mengangkat tangan dalam berdoa, Ibnu Abbas berpendapat bahwa kedua tangan diangkat hingga sejajar dengan kedua pundak, dan beristighfar berisyarat  dengan satu jari, adapun ibtihal (istighasah) dengan mengangkat kedua tangan  tinggi-tinggi. [Sunan Abu Daud, bab Witir, bab Doa 2/79 No. 14950. Dishahihkan oleh Al-Albani  dalam Shahih Sunan Abu Daud].
Imam Al-Qasim bin Muhammad berkata bahwa saya melihat Ibnu Umar berdoa di Al-Qashi dengan mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya dan kedua  telapak tangannya dihadapkan ke arah wajahnya. [Dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam  Fathul Bari 11/147]. (Lihat Jahalatun nas fid du’a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdoa oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 61-69]

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 8, 2009 in doa, Fiqih

 

One response to “Menengadahkan Tangan Dalam berdoa

  1. Ismail Musa

    September 21, 2009 at 10:47 am

    Syukron atas tulisan di atas.. Semoga tulisannya bermanfaat bagi kita semua umat muslim yang masih banyak memperdebatkan masalah berdoa dengan mengangkat kedua tangan ini..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: