RSS

Pengertian Bid’ah Dalam Aqidah Dan Bid’ah Dalam Ibadah

14 Agu

Tanya:

Apakah yang disebut dengan bid’ah dalam aqidah dan bid’ah amaliah (dalam ibadah)?

Jawab:

Secara bahasa bid’ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya sebelumnya.

Sedangkan secara istilah bid’ah adalah segala tata cara yang baru dalam beribadah kepada Allah Ta’ala yang menyimpang dari yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bid’ah dalam urusan Dien dibagi menjadi dua yaitu bid’ah dalam aqidah dan bid’ah dalam amaliyah atau ibadah. (Lihat Kitabut Tauhid, Syeikh Shalih Fauzan : 81)

Bid’ah dalam aqidah artinya adalah keyakinan-keyakinan yang menyimpang yang berbeda dengan keyakinan yang di yakini oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Bid’ah dalam aqidah yang paling berbahaya adalah kesyirikan.

Memang, nampaknya secara langsung kita tidak mendapatkan ada seorang muslim yang nyata-nyata menyembah berhala, sujud kepada patung, atau menyembah pohon dan batu besar yang dianggap keramat. Namun ada beberapa fenomena yang secara sekilas tampaknya tidak menyimpang, akan tetapi pada hakekatnya hal itu hukumnya sama seperti menyembah patung, dalam arti termasuk perbuatan syirik, seperti mengakui adanya kekuatan lain selain Allah Ta’ala , mengganti bukum Allah Ta’ala dengan hukum buatan manusia, memasang sesaji, jimat dan mempercayai seseorang yang mengaku memiliki ilmu ghaib serta mengkultuskan para hamba­-hamba Allah yang shalih. Semua ini mengakibatkan rusaknya tauhid dan aqidah kita lantaran syubhat-syubhat tersebut.

Sisi lain yang termasuk dalam bid’ah dibidang aqidah adalah menjamurnya aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dari aqidah yang benar, seperti Mu’tazilah, Khawarij, Syiah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah dan aliran-aliran menyimpang lainnya. Masing-masing aliran keagamaan ini memandang bahwa aliran dan kelompok merekalah yang paling benar, sementara kelompok selain mereka adalah kelompok sesat. Dan untuk membenarkan ajaran mereka, merekapun mengadopsi dalil-dalil dari Al-Qur’an As-sunnah dan mencocokkannya dengan pemikiran dan    hawa nafsu mereka, yang sesuai dengan hawa nafsu mereka mereka ambil, sementara yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka mereka campakkan dan mereka singkirkan jauh-jauh.

Inilah diantara bid’ah-bid’ah yang berbahaya dibidang aqidah, dan tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang mengikuti aliran­aliran tersebut berarti mereka telah menyimpang dari ajaran Islam yang benar, ajaran yang dipahami dan diamalkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam; para sahabat beliau, para tabiin, tabiit-tabiin dan para imam yang terpercaya.

Diantara bid’ah-bid’ah yang dilontarkan dan dipropagandakan oleh firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang menyimpang tersebut adalah sebagai berikut:

–         Mu’tazilah, mereka terlalu mendewakan akal, tidak mengakui adanya sifat-sifat Allah, menta’wilkan ayat ayat tentang sifat Allah Ta’ala  dan berpendapat bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

–         Syi’ah, mereka mengkafirkan sebagian besar sahabat termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat besar lainnya, meyakini bahwa Al-Qur’an yang dimiliki mereka berbeda dengan Al-Qur’an yang dimiliki oleh orang-orang Sunni pada umumnya, membolehkan nikah mut’ah (kawin kontrak) dan masih banyak lagi ajaran-ajaran mereka yang menyimpang.

–         Khawarij, mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar dan membolehkan keluar dari Imam jamaah kaum muslimin.

–         Qadariyah, mereka menyatakan bahwa manusia adalah pencipta seluruh apa yang diperbuatnya, sedikitpun mereka tidak mengakui adanya campur tangan Allah dalam apa-apa yang dilakukan manusia.

–  Jabariyah, mereka berpendapat bahwa    manusia tidak memiliki kehendak sedikitpun, menurut mereka manusia itu ibarat robot yang gerak-geriknya dikendalikan Allah Ta’ala .

–         Jahmiyah, mereka tidak mengakui keberadaan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala.

Demikianlah beberapa contoh bid’ah dalam bidang Aqidah.

Dan agar kita selamat dari fitnah ini, maka marilah kita berpegang teguh kepada aqidah yang benar, aqidah yang diyakini oleh Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam , para sahabat beliau, para tabi’in dan tabiit tabiin serta para imam-imam yang terpercaya. Dalam hal ini Allah Ta’ala telah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Inilah jalan (dien)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Surat Yusuf : 108)

Kata-kata: “Bashirah” menurut Imam Thabari dalam tafsirnya berarti “Keyakinan dan ilmu” (Lihat Tafsir Thabari 7/315)

Dan seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعَلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَالتَّنَطّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ

“Sesungguhnya kalian akan mendapati sejumlah kaum yang mengklaim bahwa mereka menyeru kalian kepada Kitabullah, padahal mereka mencampakkannya dibelakang punggung mereka. Maka hendaklah kalian berilmu dan jauhilah oleh kalian perbuatan bid’ah, janganlah kalian berlebih-lebihan dan jangan kelewatan dan hendaklah kalian berpegang teguh kepada pendapat orang orang terdahulu (yakni kaum salafus shalih)” (Syarh Ushuli’I-I’tiqad, Imam AI-Lalika’iy)

Adapun bid’ah yang kedua adalah bid’ah dalam bidang ibadah.

Bid’ah ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan bentuk bid’ah yang pertama, karena bid’ah ini juga akan menjerumuskan pelakunya ke jurang kesesatan.

Pengertian bid’ah dalam bidang ibadah adalah melakukan bentuk-bentuk ibadah tertentu yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menyatakan bahwa hal itu adalah sunnah.

Orang yang terjebak dalam kubangan fitnah ini atau dengan kata lain orang yang melaksanakan bid’ah amaliah ini berada pada posisi yang sangat berbahaya, karena lantaran  syubhat yang ada padanya, ia tidak merasa bersalah atas apa-apa yang ia lakukan, sehingga tidak mungkin ia bertaubat darinya, padahal apa yang dilakukannya itu bertentangan dengan sunnah Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak ada tuntunannya dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam .

Oleh karenanya, fitnah syubhat dalam bentuk ini lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang. Sebagaimana diungkapkan oleh Sufyan Ats-Tsaury Rahimahullah:

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ , الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا

“Perbuatan bid’ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena orang yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid’ah tidak akan bertaubat dari kebid’ahannya.” (Syarh ushuli’I-I’tiqad, Al-Lalika’iy 1/132)

Memang, lantaran pelakunya merasa tidak bersalah, maka otomatis ia merasa tidak perlu untuk bertaubat darinya. Bahkan justru sebaliknya, ia akan tetap melaksanakan amalan tersebut terus menerus, berangkat dari keyakinannya akan kebenaran amalan tersebut.

Dan satu hal yang perlu kita ingat, bahwa semakin seseorang itu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan yang bi’dah tersebut, maka Allah Ta’ala akan semakin jauh darinya. Hal ini dituturkan oleh        seorang ulama salaf yang bernama Ayyuub As­-Sikhtiyani rahimahullah beliau berkata:

مَاازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةْ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً

“Tidaklah seseorang yang melakukan bid’ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid’ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah. “(AI-Amru bi’I-Ittiba’ wa’n-Nahyu ‘ani’I-Ibtida’, Imam As-Suyuthi : 66)

Walhasil, bid’ah dengan semua macamnya adalah fitnah syubhat yang harus kita hindari agar ibadah kita kepada Allah Ta’ala benar-benar murni dan bersih dari noda-noda yang mengotorinya, karena semua jenis bid’ah dalam dien adalah sesat meskipun menurut pandangan kita adalah baik.

Dalam hal ini Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata:

(كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً  (المدخل إلى السنن الكبري للبيهقي رقم 191

“Setiap bid’ah itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandangnya hal itu tampaknya baik.” (Al-Madkhal ila’s­Sunani’l-Kubra, Imam Baihaqi, No 191)

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 14, 2009 in Bid'ah, Tauhid

 

9 responses to “Pengertian Bid’ah Dalam Aqidah Dan Bid’ah Dalam Ibadah

  1. Ery

    Agustus 15, 2009 at 7:55 pm

    Assalamu’alaikum Wr, Wb….
    dalam surat elektronik ini saya hanya mau menanyakan…bagaimana hukumnya dengan shalat tarawih berjamaah..karena setahu saya (kalau tidak salah) semasa hidupnya rasullullah (di zamannya), beliau tdk pernah melakukan shalat sunah tarawih bertjama’ah… kalau memang baginda rasulullah pernah malakukannya atau memerintahkan kepada kaummnya untuk shalat tarawih berjama’ah .. mohon petunjuk, dalilnya baik Alquran maupun hadistnya.
    Terima kasih

    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    Ery Syahminudin

     
    • Julian

      Agustus 24, 2009 at 12:56 pm

      Assalamualaikum,

      Shalat tarawih berjamaah prnh dilakukan Rasulullah. Ada haditsnya yg terkenal yaitu Beliau pernah melakukan shalat tarawih sekitar 3 hari saja, kemudian Beliau hentikan karena takut menjadi wajib. Untuk lengkapnya bapak bisa browse internet banyak kok yg menampilkan hadits tsb.

      Wassalamualaikum

       
  2. Kian Anggara

    September 15, 2009 at 3:37 pm

    Menambah pertanyaan diatas, mungkin yang dimaksud Rosul sholat tarawih hanya tiga kali dan bukan dari hari pertama dibulan Ramadhan. Namun karena takut diwajibkan bagi umatnya, maka Rosul tidak muncul lagi saat ditunggu umatnya yang akan ikut sholat berjamaah dengan Rosul,
    Kalau Rosul hanya pernah mencontohkan dalam tiga X (malam) kenapa sekarang orang tarawih setiap malam di bulan Ramadhan, berarti apakah sholat Tarawih baik yang 20 rakaat ataupun 8 rakaat yang sekarang dijalankan banyak muslim bukan termasuk bid’ah (sesat). Karena sahabat Umar sendiri pernah bilang saat pertama kali diadakan sholat Tarawih secara berjamaah bahwa ini adalah sebaik-baik bid’ah. Nah. sekarang ternyata banyak ustad/orang yang berpendapat (sesuai hadis2 diatas bahwa semua bid’ah itu sesat dan tertolak.
    Terus bagaimana status sholat tarawih sekarang dari sisi ibadah, bid’ah atau nggak?
    Andai bid’ah berarti sahabat (Kulafaurasyidin) yang sudah dijamin kebenarannya oleh Rosul ternyata telah menyesatkan umat muslim itu sendiri.

    Dalam kasus lain bahwa Rosul telah melarang sahabat2 untuk menulis hadis yang ditakutkan akan bercampur dengan Al Qur’an. namun dalam beberapa abad kemudian oleh ulama seperti Imam Bukhori, Muslim, Daud, Turmudzi dsb hadis2 tsb dikumpulin dan kemudian dibukukan.
    Sudah pasti para ulama itu sudah berani menentang Rosul (bid’ah membukukan hadis). Bahkan hadis2 tersebut kini dijadikan dasar/dalil oleh ulama2 sekarang
    untuk memerangi bid’ah. Padahal bukankah hukum2/kitab 2 tsb sendiri bid’ah..

    Mohon penjelasan.

     
  3. Kian Anggara

    September 15, 2009 at 4:22 pm

    http://pesantren.or.id.29.masterwebnet.com/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/tanya_jawab/11-hukum-bidah.single
    Hukum Bid’ah
    Indeks > Artikel > Tanya Jawab > 11 Hukum Bidah
    Pertanyaan
    Pak Kyai, saya ingin bertanya tentang sesuatu hal. Sebelumnya mohon maaf, karena saya begitu awam masalah agama, dan hal itulah yang membuat saya semakin merasa bingung. Sebenarnya hukum bid’ah itu apa? Karena teman saya pernah menyatakan bahwa bid’ah itu gak boleh. Katanya, “Kita gak akan mendapatkan pahala tanpa berpedoman Al quran dan hadits.”
    Mohon penjelasannya agar saya bertambah mantap dengan yang saya pegang. Sejak kecil saya hanya mengikuti nasihat yang dijelaskan oleh ustadz saya. Selain keyakinan itu saya merasa kurang yakin dan mantap.
    Jawaban
    Kami rangkumkan tulisan dari Habib Mundzir al Musawa (Majelis Rasulullah Jakarta) dan KH. Baidlowi Muslich (Pengasuh Pesantren Miftahul Huda, Gading, Malang) tentang bid’ah agar anda mendapat penjelasan yang paripurna tentang bid’ah.
    Indeks
    1. Pengertian Bid’ah
    2. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah
    3. Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
    4. Bid’ah Dhalalah
    5. Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
    Pengertian Bid’ah
    Menurut Imam Syafii yang didukung oleh ulama lainnya menyatakan bahwa:
    “Sesuatu yang diadakan (baru) dan bertentangan dengan kitab suci al Quran, sunnah rasul, ijma’ para ulama, atau atsar (para shahabat), maka itulah bid’ah dholalah dan ini dilarang. Sedangkan suatu kebaikan yang tidak bertentangan sedikitpun dengan al Quran, sunnah, ijma’ atau atsar maka yang demikian itu adalah terpuji.
    (Dr. Muhammad Ibn Alwy al Maliki, Dzikriyat wa nasabat, 109).
    Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah
    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah. Sebagaimana sabda beliau saw:
    “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”
    (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).
    Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
    Perhatikan hadits beliau saw tersebut. Bukankah beliau saw menganjurkan? Maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka lakukanlah. Alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik umat. Beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tetapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalelanya kemaksiatan. Pastilah diperlukan hal-hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan. Demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman. Inilah makna sebenarnya dari ayat:
    … الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا …
    “Hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”
    Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini. Semua hal baru, yang baik, termasuk dalam kerangka syariah, sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya. Alangkah sempurnanya Islam.
    Namun tentunya hal ini tidak berarti membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw. Atau bahkan menghalalkan apa-apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya. Inilah makna hadits beliau saw: “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan …”. Inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.
    Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar umat tidak tercekik dengan hal yang ada di zaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).
    Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits di atas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.
    Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
    Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah), yang Huffadh (penghafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq ra kepada Zayd bin Tsabit ra:
    “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlul yamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlul-qur’an. Lalu ia menyarankan agar aku (Abu Bakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Al Qur’an. Aku berkata, “Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?” Maka Umar berkata padaku, “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan”. Ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar. Engkau (Zayd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Al Qur’an dan tulislah Al Qur’an!”
    Zayd menjawab:
    “Demi Allah, sungguh bagiku diperintah (untuk) memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung (yang ada), tidaklah seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Al Qur’an. Bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”
    Maka Abu Bakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Al Qur’an”.
    (Shahih Bukhari hadits no. 4402 dan 6768)
    Bila kita perhatikan konteks di atas Abu Bakar Shiddiq ra mengakui dengan ucapannya, “Sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Al Qur’an, karena sebelumnya Al Qur’an tidak terkumpul dalam satu buku. Tetapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal. Penulisan Al Qur’an adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.
    Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, sebagai berikut.
    Diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan Shalat Subuh, menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang dan membuat airmata mengalir. Kami berkata:
    “Wahai Rasulullah, seakan-akan (hal) ini adalah wasiat untuk perpisahan, maka berikanlah kami wasiat.”
    Rasul saw bersabda:
    “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak Afrika. Sungguh di antara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak_ ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan geraham kalian (kiasan untuk kesungguhan) dan hati-hatilah dengan hal-hal yang baru, sungguh semua yang Bid’ah _itu adalah kesesatan”.
    (Mustadrak Alas-shahihain hadits no. 329).
    Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Sedangkan sunnah khulafa’ur rasyidin seperti dijelaskan sebelumnya bahwa Abu Bakar Shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui, menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Al Qur’an yang selesai penulisannya di masa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
    Nah, sempurnalah sudah keempat manusia utama di umat ini, khulafa’ur rasyidin melakukan bid’ah hasanah.
    • Abu Bakar Shiddiq ra di masa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an
    • Umar bin Khattab ra di masa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata, “Inilah sebaik-baik Bid’ah!” (Shahih Bukhari hadits no. 1906)
    • Penyelesaian penulisan Al Qur’an di masa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Al Qur’an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy.
    • Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui penulisan Al-Qur’an hingga selesai.
    Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw:
    Dua kali adzan di Shalat Jumat. Tidak pernah dilakukan di masa Rasul saw. Tidak pula di masa Khalifah Abu Bakar shiddiq ra. Khalifah Umar bin khattab ra pun belum memerintahkannya. Namun baru dilakukan di masa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini.
    (Shahih Bulkhari hadits no. 873).
    Siapakah yang salah dan tertuduh? Siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah? Adakah pendapat mengatakan bahwa keempat khulafa’ur rasyidin ini tak paham makna _Bid’ah?
    Bid’ah Dhalalah
    Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk pada golongan Bid’ah dhalalah. Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat khulafa’ur rasyidin. Di antaranya pula adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa’ur rasyidin, sedangkan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf dan menasihatkan umatnya dengan, “Berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur rasyidin.”
    Bagaimana Sunnah Rasul saw? Beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah. Bagaimana sunnah Khulafa’ur rasyidin? Mereka melakukan Bid’ah hasanah. Maka penolakan atas hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul saw.
    Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing. Melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
    Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dan sebagainya ini pun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya. Tak pula Khulafa’ur rasyidin memerintahkan menulisnya. Namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula ilmu musthalahul-hadits, nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits. Ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah.
    Demikian pula ucapan Radhiyallahu ‘anhu atas sahabat yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat. Walaupun itu disebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah. Tak ada ayat Qur’an atau hadits Rasul saw yang memerintahkan kita untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya. Namun karena kecintaan para tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas. Lalu muncul pula kini Al-Quran yang dikasetkan, di-CD-kan, program Al-Quran di ponsel, Al-Quran yang diterjemahkan. Ini semua adalah Bid’ah hasanah. Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
    Sekarang kalau kita menarik mundur ke belakang sejarah Islam. Bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu versi Al-Quran di zaman sekarang. Karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan abadi. Jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yang berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).
    Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua. Ingatlah ucapan amirul mukminin pertama ini. Ketahuilah ucapannya adalah Mutiara Al-qur’an, sosok agung Abu Bakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah: “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.
    Lalu berkata pula Zayd bin Haritsah ra:
    “… bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw? Maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun (Abu Bakar ra) meyakinkanku (Zayd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”.
    Maka kuhimbau saudara-saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal-hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zayd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt. Curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’ur rasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
    Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat. Amin.
    Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah
    al-Hafidh al-Muhaddits al-imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah (Imam Syafi’i)
    Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela). Yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela. Beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih: “Inilah sebaik baik bid’ah”.
    (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
    al-imam al-hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah (Imam Qurtubi)
    Menanggapi ucapan ini (dari Imam Syafi’i di atas), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi: “Seburuk-buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal-hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat.
    (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
    al-muhaddits al-hafidh al-imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
    Penjelasan mengenai hadits: “Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya”,
    Hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw: “Semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”. Sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela”.
    (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
    Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu bid’ah yang wajib, bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram. Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran. Contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren. Bid’ah yang mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan. Sedangkan bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui. Demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum. Sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”.
    (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
    al-Hafidh al-muhaddits al-imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthiy rahimahullah (Imam Suyuti)
    Mengenai hadits Bid’ah Dhalalah ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah: “… yang menghancurkan segala sesuatu.” (QS. Al-Ahqaf: 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur. Atau pula ayat: “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya.” (QS. As-Sajdah: 13) dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka (tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim. pen). Atau hadits: “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw)
    (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
    Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka? Berdasarkan apa pemahaman mereka? Atau seorang yang disebut Imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits? Atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?
    Walillahittaufiq

     
    • Asm Sang Pujangga

      Mei 26, 2015 at 9:39 am

      Saya juga menganut faham ini mas,,,,untuk saat ini saya masih dilema sebenarnya Ahlussunnah Waljama’ah yang sebenarnya itu yang mana,,,,bagi orang penentang semua bid’ah mereka ber argumen,,,,,Bid’ah diperbolehkan hanya dalam urusan duniawi saja,,,makanya terjadilah pembukuan Alquran,,,,,,jadi kata mereka bid’ah hanya boleh dalam perkara duniawi saja,,,tidak untuk masalah ibadah ,,,,dan hadist “Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya,,,,,,dan sterusnya,,,,,menurut mereka ini asbabul wurudnya bukan dalam masalah bid’ah tapi masalah sedekah,,,,,,lalu kata mereka bahwa imam syafi’i yang mengatakan bahwa bid’ah terbagi 2,,,,yani bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah,,,,itu ada periwayat yang diragukan,,,,,begitu,,,jadi bagaimana yah mas,,,,,,

       
  4. kang maulid

    Januari 2, 2010 at 11:14 pm

    kalau pengajian maulid nabi bid’ah gak???????????????????????????????????????????????????????

     
  5. Dhaif

    Januari 10, 2010 at 9:57 am

    Syirik.

     
  6. adi

    April 5, 2010 at 2:42 pm

    Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As-Sajdah: 13)

    di terjemahah yang ana baca artinya “bersama-sama” bukan artinya “keseluruhan”
    yang mana yang bener ya?
    silahkan merujuk ke http://www.alquran-digital.com

     
  7. hasanah

    Mei 3, 2010 at 9:06 am

    pernah denger sahabat (ibnu mas’ud) berkata “hampir saja hujan batu atas ucapan mu itu”

    kisahnya ibnu mas’ud berkata “rosulullah bersabda begini” tapi orang itu berkata “tp umar dan abu bakar berkata begini”..

    cukuplah bagiku Allah dan Rosull-Nya…Rosulullah uswatun hasanah…

    Rosulullah,sahabat,tabi’in,tabi’ut tabi’in tidak pernah yasinan tahlillan 7 hr 40 hr 100hr 1000hr maulidan marhabanan kendurian ngalap berkah wali songo dll…

    intinya kita SAMI’NA WA ATHO’NA

    jangan AGAMA MENGIKUTI TRADISI SUATU MASYARAKAT tetapi TRADISI SUATU MASYARAKATLAH YANG HARUS MENGIKUTI AGAMA…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: