RSS

Perihal Berdzikir Sambil Menangis Dan Dzikir Fana’

14 Sep

Tanya:
Mana yang lebih baik dzikir sambil menangis atau biasa saja tidak menangis, dan ada yang berpendapat dzikir fana itu yang mendapat hidayah dan yang tidak fana tidak mendapat hidayah? (081808747XXX)

Jawab:
Dzikir yang baik adalah dzikir yang dengannya dapat menjadikan seseorang semakin dekat dengan Allah Ta’ala, semakin mengakui akan kebesaran-Nya dan menumbuhkan rasa takut kepada-Nya.

Dzikir yang baik adalah dzikir yang dapat menjadikan hatinya tenang, pikirannya jernih, perasaannya nyaman dan jiwanya tentram.

Apabila ketika ia sedang melantunkan lafadz-lafadz dzikir secara refleks ia menitikkan air matanya dan menangis, maka mudah-mudahan inipun menjadi tanda kebaikan seseorang. Asalkan tangisan tersebut tidak direkayasa atau dibuat-buat. Apalagi jika hal itu dilakukan untuk menaruh simpati dari orang lain, maka ini menjadi perbuatan yang tercela, karena ada unsur-unsur riya didalamnya.

Jadi, dzikir yang paling baik adalah dzikir yang dapat menjadikan diri seseorang itu tenang dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Ta’ala, baik ia melakukannya sambil menangis karena terlalu menjiwai lafadz-lafadz dzikir yang ia ucapkan ataupun tidak sambil menangis, karena toh tidak setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam berdzikir beliau melakukannya sambil menangis, demikian pula dengan para sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Namun demikian ada dalil yang membenarkan berdzikir sambil menangis, yaitu hadits shahih yang menceritakan adanya tujuh golongan yang akan diberi naungan oleh Allah Ta’ala pada hari Kiamat, diantaranya adalah point yang menyebutkan:

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Dan laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan menyendiri lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda:

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ : عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيْلِ اللهِ  رواه الترمذي

“Dua mata yang tidak tersentuh api Neraka: Mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang melek berjaga dijalan Allah.” (HR. Turmudzi dan dishahihkan oleh Albani dalam Misykatul Mashabih 2/371)

Adapun mengenai pernyataan bahwa dzikir fana itu yang mendapat hidayah, ini adalah pernyataan yang rancu dan tidak benar sama sekali. Dzikir hingga fana adalah bentuk dzikir yang diamalkan oleh orang-orang shufi. Dari sisi maknanya saja sudah tidak benar, bagaimana tidak, lafadz “dzikir” artinya adalah ingat, sedangkan “fana” artinya hilang atau istilah yang lebih populer adalah “fly.”  Dzikir fana adalah dzikir yang menjadikan seseorang itu lupa dengan apa yang ia lakukan. Ini adalah amalan dan perbuatan yang tidak masuk diakal, tidak rasional, karena dzikir mestinya menjadikan seseorang ingat kepada Allah, bukan justru menjadikan ia lupa dengan-Nya. Na’udzubillah min dzalik.

Ini adalah kerancuan berfikir orang-orang shufi, dan yang pasti dzikir semacam ini tidak pernah ada dan tidak dilakukan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabat beliau, demikian pula para tabiin dan tabiut tabiin serta para imam dari kalangan salafus shalih. Wallahu a’lam bish showab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 14, 2008 in Bid'ah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: