RSS

Pengertian Bid’ah Dalam Aqidah Dan Bid’ah Dalam Ibadah

31 Jul

Tanya:
Apakah yang disebut dengan bid’ah dalam aqidah dan bid’ah amaliah (dalam ibadah)?

Jawab:
Secara bahasa bid’ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya sebelumnya.

Sedangkan secara istilah bid’ah adalah segala tata cara yang baru dalam beribadah kepada Allah ta’ala yang menyimpang dari yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Bid’ah dalam urusan Dien dibagi menjadi dua yaitu bid’ah dalam aqidah dan bid’ah dalam amaliyah atau ibadah. (Lihat Kitabut Tauhid, Syeikh Shalih Fauzan : 81)
Bid’ah dalam aqidah artinya adalah keyakinan-keyakinan yang menyimpang yang berbeda dengan keyakinan yang di yakini oleh Rasulullah sh dan para sahabatnya.

Bid’ah dalam aqidah yang paling berbahaya adalah kesyirikan.

Memang, nampaknya secara langsung kita tidak mendapatkan ada seorang muslim yang nyata-nyata menyembah berhala, sujud kepada patung, atau menyembah pohon dan batu besar yang dianggap keramat. Namun ada beberapa fenomena yang secara sekilas tampaknya tidak menyimpang, akan tetapi pada hakekatnya hal itu hukumnya sama seperti menyembah patung, dalam arti termasuk perbuatan syirik, seperti mengakui adanya kekuatan lain selain Allah ta’ala , mengganti bukum Allah ta’ala dengan hukum buatan manusia, memasang sesaji, jimat dan mempercayai seseorang yang mengaku memiliki ilmu ghaib serta mengkultuskan para hamba­-hamba Allah yang shalih. Semua ini mengakibatkan rusaknya tauhid dan aqidah kita lantaran syubhat-syubhat tersebut.

Sisi lain yang termasuk dalam bid’ah dibidang aqidah adalah menjamurnya aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dari aqidah yang benar, seperti Mu’tazilah, Khawarij, Syiah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah dan aliran-aliran menyimpang lainnya. Masing-masing aliran keagamaan ini memandang bahwa aliran dan kelompok merekalah yang paling benar, sementara kelompok selain mereka adalah kelompok sesat. Dan untuk membenarkan ajaran mereka, merekapun mengadopsi dalil-dalil dari Al-Qur’an As-sunnah dan mencocokkannya dengan pemikiran dan    hawa nafsu mereka, yang sesuai dengan hawa nafsu mereka mereka ambil, sementara yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka mereka campakkan dan mereka singkirkan jauh-jauh.

Inilah diantara bid’ah-bid’ah yang berbahaya dibidang aqidah, dan tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang mengikuti aliran­aliran tersebut berarti mereka telah menyimpang dari ajaran Islam yang benar, ajaran yang dipahami dan diamalkan oleh Nabi ; para sahabat beliau, para tabiin, tabiit-tabiin dan para imam yang terpercaya.

Diantara bid’ah-bid’ah yang dilontarkan dan dipropagandakan oleh firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang menyimpang tersebut adalah sebagai berikut:

Mu’tazilah, mereka terlalu mendewakan akal, tidak mengakui adanya sifat-sifat Allah, menta’wilkan ayat ayat tentang sifat Allah ta’ala  dan berpendapat bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

Syi’ah, mereka mengkafirkan sebagian besar sahabat termasuk Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah dan sahabat-sahabat besar lainnya, meyakini bahwa Al-Qur’an yang dimiliki mereka berbeda dengan Al-Qur’an yang dimiliki oleh orang-orang Sunni pada umumnya, membolehkan nikah mut’ah (kawin kontrak) dan masih banyak lagi ajaran-ajaran mereka yang menyimpang.

Khawarij, mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar dan membolehkan keluar dari Imam jamaah kaum muslimin.
Qadariyah, mereka menyatakan bahwa manusia adalah pencipta seluruh apa yang diperbuatnya, sedikitpun mereka tidak mengakui adanya campur tangan Allah dalam apa-apa yang dilakukan manusia.
–  Jabariyah, mereka berpendapat bahwa    manusia tidak memiliki kehendak sedikitpun, menurut mereka manusia itu ibarat robot yang gerak-geriknya dikendalikan Allah ta’ala .

Jahmiyah, mereka tidak mengakui keberadaan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala.

Demikianlah beberapa contoh bid’ah dalam bidang Aqidah.
Dan agar kita selamat dari fitnah ini, maka marilah kita berpegang teguh kepada aqidah yang benar, aqidah yang diyakini oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasalam , para sahabat beliau, para tabi’in dan tabiit tabiin serta para    imam-imam yang terpercaya. Dalam hal ini Allah ta’ala telah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ {108}

“Katakanlah: Inilah jalan (dien)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah. Maha Suci Allah dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Surat Yusuf : 108)

Kata-kata: “Bashirah” menurut Imam Thabari dalam tafsirnya berarti “Keyakinan dan ilmu” (Lihat Tafsir Thabari 7/315)

Dan seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radiallahu ‘anhu berkata:

إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كِتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعَلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَالتَّنَطّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ

“Sesungguhnya kalian akan mendapati sejumlah kaum yang mengklaim bahwa mereka menyeru kalian kepada Kitabullah, padahal mereka mencampakkannya dibelakang punggung mereka. Maka hendaklah kalian berilmu dan jauhilah oleh kalian perbuatan bid’ah, janganlah kalian berlebih-lebihan dan jangan kelewatan dan hendaklah kalian berpegang teguh kepada pendapat orang orang terdahulu (yakni kaum salafus shalih)” (Syarh Ushuli’I-I’tiqad, Imam AI-Lalika’iy)
Adapun bid’ah yang kedua adalah bid’ah dalam bidang ibadah.
Bid’ah ini tidak kalah bahayanya dibandingkan dengan bentuk bid’ah yang pertama, karena bid’ah ini juga akan menjerumuskan pelakunya ke jurang kesesatan.

Pengertian bid’ah dalam bidang ibadah adalah melakukan bentuk-bentuk ibadah tertentu yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam lalu menyatakan bahwa hal itu adalah sunnah.

Orang yang terjebak dalam kubangan fitnah ini atau dengan kata lain orang yang melaksanakan bid’ah amaliah ini berada pada posisi yang sangat berbahaya, karena lantaran  syubhat yang ada padanya, ia tidak merasa bersalah atas apa-apa yang ia lakukan, sehingga tidak mungkin ia bertaubat darinya, padahal apa yang dilakukannya itu bertentangan dengan sunnah Rasululah shallallahu ‘alaihi wasalam, dan tidak ada tuntunannya dari beliau.

Oleh karenanya, fitnah syubhat dalam bentuk ini lebih disukai oleh Iblis daripada perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang. Sebagaimana diungkapkan oleh Sufyan Ats-Tsaury Rahimahullah:

الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ , الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا

“Perbuatan bid’ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena orang yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid’ah tidak akan bertaubat dari kebid’ahannya.” (Syarh ushuli’I-I’tiqad, Al-Lalika’iy 1/132)

Memang, lantaran pelakunya merasa tidak bersalah, maka otomatis ia merasa tidak perlu untuk bertaubat darinya. Bahkan justru sebaliknya, ia akan tetap melaksanakan amalan tersebut terus menerus, berangkat dari keyakinannya akan kebenaran amalan tersebut.

Dan satu hal yang perlu kita ingat, bahwa semakin seseorang itu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amalan yang bi’dah tersebut, maka Allah ta’ala akan semakin jauh darinya. Hal ini dituturkan oleh    seorang ulama salaf yang bernama Ayyuub As­-Sikhtiyani rahimahullah beliau berkata:

مَاازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةْ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً

“Tidaklah seseorang yang melakukan bid’ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid’ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah. “(AI-Amru bi’I-Ittiba’ wa’n-Nahyu ‘ani’I-Ibtida’, Imam As-Suyuthi : 66)

Walhasil, bid’ah dengan semua macamnya adalah fitnah syubhat yang harus kita hindari agar ibadah kita kepada Allah ta’ala benar-benar murni dan bersih dari noda-noda yang mengotorinya, karena semua jenis bid’ah dalam dien adalah sesat meskipun menurut pandangan kita adalah baik.

Dalam hal ini Abdullah bin Umar radiallahu ‘anhu berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً  (المدخل إلى السنن الكبري للبيهقي رقم 191 )

“Setiap bid’ah itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandangnya hal itu tampaknya baik.” (Al-Madkhal ila’s­Sunani’l-Kubra, Imam Baihaqi, No 191)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 31, 2008 in Bid'ah, Tauhid

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: