RSS

Hukum Membaca Sholawat Badar

28 Sep

Tanya:
Apakah hukum membaca sholawat badar? (Budi, Padang Ratu)

Jawab:
Sholawat badar adalah salah satu bentuk sholawat yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Di dalam sholawat tersebut banyak terdapat lafadz-lafadz tawassul yang bid’ah, yaitu tawassul kepada ahli badar, mereka para sahabat yang meninggal dunia ketika perang Badar. Para Ulama telah menjelaskan bahwa tawassul dengan orang yang meninggal dunia adalah bentuk tawassul yang dilarang. (Lihat Kitabut Tauhid, Syaikh Sholih Fauzan)

Oleh karena itu tidak boleh kita membaca sholawat Badar ini,apalagi sampai meyakini keutamaan-keutamaan tertentu jika membaca sholawat badar, ini adalah keyakinan yang sama sekali tidak ada dasar dan tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Dan kalau kita ingin membaca sholawat maka bacalah sholawat Ibrahimiyah, sholawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam kepada ummatnya sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut :

عَنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ بَلَى فَأَهْدِهَا لِي فَقَالَ سَأَلْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكُمْ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Dari Abdurrahman bin Abi Laila ia berkata: “Kaab bin Ujrah bertemu denganku lalu berkata: “Maukah engkau aku beri hadiah  yang aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam ?” “Mau hadiahkanlah untukku,” jawabku. Ia berkata: “Kami pernah bertanya kepada Rasulullah, kami berkata: “Hai Rasulullah, bagaimana lafadz bersholawat kepadamu para ahli bait, karena sesungguhnya Allah telah mengajari kami bagaimana mengucapkan salam atasmu, Beliau bersabda: “Ucapkanlah oleh kalian: “Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad… innaka hamidun majid” (Artinya) Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Bukhari No 3190)

About these ads
 
24 Komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2009 in Bid'ah

 

24 responses to “Hukum Membaca Sholawat Badar

  1. suntoro

    Oktober 17, 2009 at 1:22 pm

    kita memang mesti kritis dalam beragama, kalau ngga, sia-sia saja., sejak SD saya diajari sholawat badar tsb….sbg lagu-lagu pengibar semangat, sekarang udah saya tinggalkan, dan diganti dg nasyid-nasyid yg lebih bagus seperti dari izzatul islam, shoutul harokah, dll.
    kaum muda Islam memang membutuhkan lagu-lagu pengibar semangat…

     
  2. Daut subari

    Oktober 18, 2009 at 9:26 pm

    Apa bedanya/ sama aja kalee… Mendingan baca …

     
  3. abu merapi

    Oktober 25, 2009 at 6:13 pm

    Bisakah Pengelola Blog mencantumkan teks shalawat badar yg dimaksudkan berikut artinya dlm bhsa Indonesia sehingga permasalahan lebih jelas. Serta mohon disebutkan pada bagian mana saja dari teks tersebut yg dipandang bid’ah.

     
  4. tommi

    Oktober 26, 2009 at 9:14 am

    mas abu merapi, berikut saya nukilkan sholawat badar :

    Sholatullaoh Salaamulloh ‘ala Thoha Rosulillah
    Sholatullaoh Salaamulloh ‘ala Yaasiin Habiibillah
    Tawassalnaa bi bismillah wabil Haadi Rosulillah
    Wa kulli mujahidin lillah bi ahlil badri yaa Allah.

    Artinya :
    Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Nabi Thaha utusan Allah
    Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Nabi Yasin utusan Allah
    Kami berwasilah dengan berkah ‘bismillah’. Dan dengan Nabi yang memberikan petunjuk lagi utusan Allah
    Dan juga seluruh mujahidin di jalan Allah dan juga dengan para sahabat ahli badar yaa Allah.

    Yg jadi permasalahan didalam sholawat ini adalah bertawassul dengan Nabi dan para mujahidin perang badar : Tawassalnaa bi bismillah wabil Haadi Rosulillah
    Wa kulli mujahidin lillah bi ahlil badri yaa Allah.
    Menurut yg pernah ana baca, didalam sholawat ini terkandung 2 macam tawassul, tawassul kepada Allah (diperbolehkan), dan tawassul kepada Nabi dan mujahidin perang badar (diperselisihkan). Menurut sebagian ulama termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tawassul dengan Nabi dan orang2 sholeh tidak diperbolehkan karena dikhawatirkan akan membuka pintu kesyirikan dan akan mendorong kita untuk berdoa kepada selain Allah. Tetapi ada yg memperbolehkan diantaranya Imam asy-Syaukani didalam kitabnya Tuhfatudz Zakirin” syarh “al Hishnul Hashin.

     
    • abu merapi

      Oktober 26, 2009 at 1:00 pm

      @Jazakumullah akh Tommi (barakallah fik) yg dah bersedia menjawab pertanyaan..
      Terima kasih sdh mau berbagi pengetahuan…
      Yg mjdi pertanyaan saya:
      – Mengapa bertawasul dgn org yg sdh meninggal dilarang (bahkan ada yg mengatakan termasuk syirik) ?
      – Benarkah ini termasuk syirik.
      – Apakah ada dalil dari Quran atau Hadits tentang pelarangan ini.
      – Dan apakah boleh bertawasul dgn org yg masih hidup ?
      Terima kasih sblmnya…

       
  5. abu merapi

    Oktober 27, 2009 at 6:15 am

    Kok blm ada jawaban ya…
    Brg kali apa yg saya tulis di bawah ini bs menjadi bahan pertimbangan:
    Tentang bagaiman keadaan para mujahid yg gugur di jalan Allah (termasuk yg gugur di perang Badar) kita dapat melihat pada Al-Baqarah 154:
    وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ
    Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.(QS.2:154)
    Jadi pada hakekatnya mereka adalah hidup walaupun jasad mereka telah mati.
    Jadi jika tawassul dengan org yg hidup diperbolehkan, apa salahnya bertawassul dgn para mujahid di jalan Allah yang Allah sendiri mengatakan bhwa mereka itu hidup.
    Wallahu a’lam

     
    • tommi

      Oktober 27, 2009 at 12:22 pm

      Assalamu’alaikum,

      Sahabat abu merapi,

      Sebelumnya ana ingin minta maaf klo ana bukan org yg berkompeten membahas masalah ini dengan mendalam apalagi dengan dalil2nya karena ana bukan ustadz. Mungkin nanti ada teman2 yg lebih mengerti masalah ini yg bisa menjawab pertanyaan antum. Yg jadi pegangan ana adalah spt ini :
      Tawassul itu ada 2 macam :
      1. Tawassul dengan nama dan sifat2 Allah dengan kata lain dengan Asmaul Husna-Nya. Ijma’ para ulama dan kaum muslimin sepakat bahwa tawassul ini adalah diperbolehkan bahkan dianjurkan.
      2. Tawassul dengan kemuliaan Nabi dan orang2 sholeh. Terdapat 2 situasi dalam hal ini, jika Nabi dan orang sholeh itu masih hidup maka diperbolehkan, misalnya ada riwayat orang buta yg meminta kepada Nabi agar mendoakan kesembuhan untuk matanya, ini terjadi ketika Nabi masih hidup (maaf, ana tidak berpanjang2 menyebutkan haditsnya krn ana yakin udh pada tau), lalu misalnya ana minta didoakan oleh ustadz ana agar rezeki ana lancar lalu ustadz tersebut akan mendoakan ana. Tawassul ini masih dibolehkan. Namun jika mereka sudah wafat, maka disinilah letak perbedaan pendapat para ulama, sebagian membolehkan, sebagian lagi melarang, namun larangannya ini tidak mutlak. Syaikhul Islam pun tidak mutlak melarangnya, hanya yg dikhawatirkan adalah org2 yg terbiasa bertawassul dengan Nabi dan org2 sholeh lama2 bisa jatuh dalam kesyirikan, jadi pelarangan ini hanya bersifat untuk menutup pintu syirik dan pintu masuk syetan.

      Adapun ana, maka ana akan lebih memilih untuk menghindari perdebatan dan perselisihan dengan memilih tawassul no. 1 yaitu langsung kepada Allah, tidak kepada Nabi, tidak kepada org2 sholeh, karena tawassul jenis ini adalah tawassul yg telah disepakati kebolehannya oleh para ulama dan kaum muslimin, tidak ada pertentangan didalamnya. Dan sungguh merupakan akhlak yg mulia dari seorang muslim bila ia bisa menghindari perselisihan dengan memilih jalan yg lebih selamat, jalan yg tidak mengandung syubuhat, jalan yg sudah disepakati kehalalannya oleh ijma’, lagipula sahabat, kita bisa terhindar dari menakwili ayat2 al qur’an dan riwayat2 hadits secara tidak pada tempatnya hanya untuk mendukung pendapat kita. Allah berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…” QS Al-mu’min ayat 60. Ayat inilah yg mutlak ana jadikan pegangan dalam berdoa langsung pada Allah Azza wa Jalla Yang Maha Pemurah. Melalui ayat inilah tercermin kemurahan Allah Azza wa Jalla dalam menerima doa yang langsung dipanjatkan oleh hambaNya, siang malam. Dan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala amat senang kepada hambaNya yg selalu memanjatkan doa kepadaNya di setiap waktu.

      Sungguhpun bila sahabat abu merapi berpendapat bolehnya tawassul dengan Nabi dan org2 sholeh, ana sepenuhnya menyerahkan pada antum bagaimana berpendapat. Ana sama sekali tidak akan mencela pendapat antum. Mungkin segini aja komentar ana, maaf klo ada kata2 yg membuat antum tersinggung. Hanya kepada Allah-lah kita memohon petunjuk.

      Wassalamu’alaikum.

       
  6. abu merapi

    Oktober 27, 2009 at 1:30 pm

    Wa’alaykumussalam wa rahamatullah wa barakatuh
    Akh Tommi yg berbahagia
    InsyaAllah saya tidak tersinggung kok (nyante aja Mas ^.^), bwt saya ini sebuah pembelajaran berdialog dgn sesama muslim yg mungkin berbeda pendapat. Saya juga bukan ustad kok Mas, masih belajar dan saya juga mendapatkan masukan baru dri jawaban Anda.
    Menurut saya ayat. …. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…” QS Al-mu’min ayat 60… tidaklah disebutkan secara tegas larangan bertawassul (dengan org sholeh yg sdh meninggal)…
    Dan klo sblmnya saya menyitir ayat yg mungkin tidak terkait langsung dgn masalah tawassul dan mungkin dianggap “menakwili ayat2 al qur’an dan riwayat2 hadits secara tidak pada tempatnya hanya untuk mendukung pendapat kita”. Silakan simak riwayat berikut ini:

    Berkata al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Musa an-Nukmani dalam karyanya yang berjudul “Mishbah adz-Dzolam”; Sesungguhnya al-Hafidz Abu Said as-Sam’ani menyebutkan satu riwayat yang pernah kami nukil darinya yang bermula dari Khalifah Ali bin Abi Thalib yang pernah mengisahkan: “Telah datang kepada kami seorang badui setelah tiga hari kita mengebumikan Rasulullah. Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke pusara Rasul dan membalurkan tanah (kuburan) di atas kepalanya seraya berkata: Wahai Rasulullah, engkau telah menyeru dan kami telah mendengar seruanmu. Engkau telah mengingat Allah dan kami telah mengingatmu. Dan telah turun ayat; “Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS an-Nisa: 64) dan aku telah menzalimi diriku sendiri. Dan aku mendatangimu agar engkau memintakan ampun untukku. Lantas terdengar seruan dari dalam kubur: Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu”. (Lihat: Kitab “Wafa’ al-Wafa’” karya as-Samhudi 2/1361)

    Dari riwayat di atas menjelaskan bahwa; bertawassul kepada Rasulullah pasca wafat beliau adalah hal yang sah dan tidak tergolong syirik atau bid’ah. Bagaimana tidak? Sewaktu prilaku dan ungkapan tawassul itu disampaikan oleh si Badui di pusara Rasul -dengan memeluk dan melumuri kepalanya dengan tanah pusara- yang di tujukan kepada Rasul yang sudah dikebumikan, hal itu berlangsung di hadapan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali sama sekali tidak menegurnya, padahal beliau adalah salah satu sahabat terkemuka Rasulullah yang memiliki keilmuan yang sangat tinggi dimana Rasulullah pernah bersabda berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib KW:

    “Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali” (Lihat: Kitab “Tarikh Baghdad” karya Khatib al-Baghdadi 14/321, dan dengan kandungan yang sama bisa dilihat dalam kitab “Shohih at-Turmudzi” 2/298)

    Jika perilaku si Badui tersebut menyimpang dari syariat tentulah Imam Ali tak akan membiarkan org tersebut melakukannya.
    Wallahu a’lam
    Semoga hal ini bisa menjadi masukan terutama bagi kita semua sehingga bisa saling memahami mengapa sesama muslim melakukan sesuatu yg barang kali menurutnya berbeda dgn apa yg dipahaminya.
    Semoga walaupun terdapat perbedaan pemahaman tidak menjadi penyebab terputusnya ukhuwah…
    Mohon maaf bila ada kata2 yg salah.
    Wassalamu’alaykum wa rahmatullah wa barakatuh

     
    • abu ruqoyyah

      September 27, 2010 at 8:07 am

      akh abu merapi, atsar yang saudara bawakan itu tidak shahih. berikut penjelasannya:

      Atsar tersebut lafadz aslinya adalah sebagai berikut :
      قدم علينا أعرابي بعدما دفنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بثلاثة أيام فرمى بنفسه إلى قبر النبي – صلى الله عليه وسلم – وحثا على رأسه من ترابه ، وقال : يا رسول الله قلت فسمعنا قولك ، ووعيت عن الله عز وجل فما وعينا عنك ، وكان فيما أنزل الله عليك {ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابا رحيما} وقد ظلمت نفسي وجئتك تستغفر لي فنودي من القبر إنه قد غفر لك
      Kajian terhadap sanad atsar :
      Al-Hafidz Muhammad bin Ahmad bin Abdil Hadi menyebutkan sanad atsar ini di dalam kitab As-Shoorimul Munkiy halaman 363-364 :
      روى أبو الحسن علي بن إبراهيم بن عبد الله بن عبد الرحمن الكرخي عن علي بن محمد بن علي ثنا أحمد بن محمد بن الهيثم الطائي ثنا أبي عن أبيه عن سلمة بن كهيل عن أبي صادق عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه
      Abul Hasan Ali bin Ibrohim bin Abdillah bin Abdirrohman al- Karkhy meriwayatkan dari Ali bin Muhammad bin Ali (ia berkata ) telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad al- Haitsam at-Tho-i (ia berkata) telah mengkhabarkan kepada kami ayahku dari ayahnya dari Salamah bin Kuhail dari Abu Shodiq dari Ali bin Abi Tholib radliyallaahu ‘anhu.

      Sebelum kita menyimak sedikit penjelasan dari al-Hafidz Muhammad bin Ahmad bin Abdil Hadi (yang lebih dikenal sebagai Ibnu Abdil Hadi) tentang sanad atsar tersebut, ada baiknya kita mengenal siapakah al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi agar kita mengetahui kadar keilmuan beliau.
      Al- Imam As-Suyuthy menyebutkan tentang biografi beliau dalam kitabnya Thobaqootul Huffadz dalam bab at-Thobaqoh al-Haadiyah wal ‘Isyruun juz 1 halaman 109. As- Suyuthy menyatakan tentang beliau sebagai al-Imam, al- Muhaddits (ahlul hadits), al- Hafidz, al-Faqiih (ahli fiqh), dan gelar pujian yang lain. Setelah itu disebutkan bahwa Ibnu Abdil Hadi adalah termasuk murid Ibnu Taimiyyah yang mahir dalam fiqh, al-Ushul, dan bahasa Arab. Kemudian beliau menukil pujian – pujian Ulama’ lain terhadapnya, di antaranya adalah ahli tafsir terkenal Ibnu Katsir yang menyatakan :
      كان حافظاً علامة ناقداً حصل من العلوم ما لا يبلغه الشيوخ ولا الكبار وبرع في الفنون وكان جبلا في العلل والطرق والرجال حسن الفهم جداً صحيح الذهن
      ” Beliau adalah seorang hafidz, Allaamah (seorang yang sangat ‘alim), Naaqid (pengkritik derajat hadits), tercapai padanya ilmu- ilmu yang tidak bisa dijangkau para Syaikh dan Ulama’ yang besar, dan mahir dalam bidang- bidang (ilmu), beliau adalah (bagaikan) gunung dalam masalah ‘ilal (cacat-cacat pada hadits), dan jalan-jalan (periwayatan hadits), dan perawi-perawi (hadits). Beliau memiliki pemahaman yang sangat baik dan pemikiran yang shahih”

      AlHafidz al-Mizzi -salah seorang guru Ibnu Katsir-mengatakan :
      ما لقيته إلا واستفدت منه
      ” tidaklah aku bertemu dengannya kecuali aku mendapatkan faedah darinya”
      As-Suyuuthy menyatakan bahwa ucapan al-Mizzi tersebut juga diucapkan oleh al-Hafidz Adz- Dzahaby. (Para pembaca, al- Hafidz Adz-Dzahaby adalah salah seorang murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Pada saat awal menuntut ilmu hadits, al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaany bercita- cita dan berkeinginan besar ingin seperti Adz-Dzahaby, sehingga jika beliau minum air zam-zam juga berdoa kepada Allah agar dikaruniai keilmuan seperti al- Hafidz Adz-Dzahaby).

      Kita kembali pada penjelasan al- Hafidz Ibnu Abdil Hadi tentang atsar ‘Ali bin Abi Tholib tersebut….
      Setelah menyebutkan sanadnya, beliau menyebutkan sisi kelemahan yang ada pada atsar tersebut. Di dalam sanad tersebut dinyatakan bahwa Ahmad bin Muhammad alHaitsam at-Tho-i mendengar dari ayahnya, dan ayahnya mendengar dari ayahnya lagi (kakek Ahmad bin Muhammad al- Haitsam). Al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi menyoroti perawi kakek dari Ahmad bin Muhammad al-Haitsam at-Tho-i:
      والهيثم جد أحمد بن الهيثم أظنه ابن عدي الطائي ، فإن يكن هو ، فهو متروك كذاب ، وإلا فهو مجهول
      ” dan al-Haitsam kakek Ahmad bin al-Haitsam, aku mengira ia adalah Ibnu ‘Adi at-Tho-i, kalau memang ia adalah orangnya, maka dia adalah matruk (ditinggalkan), dan pendusta. Jika bukan, maka ia adalah majhul (tidak dikenal).

      Selanjutnya, al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi menyebutkan keterangan para Ulama’ tentang al-Haitsam bin ‘Adi, di antaranya :

      Yahya bin Ma’in menyatakan tentangnya: dia tidaklah terpercaya dan pendusta. Abu Dawud juga menyatakan bahwa dia adalah pendusta (Lihat kitab at-Taarikh karya Ibnu Ma’in no 1767).
      Selain itu, dalam sanad atsar tersebut dinyatakan bahwa yang meriwayatkan dari ‘Ali adalah Abu Shodiq. Dalam kitab al-Jarh wat Ta’dil karya Ibnu Abi Haatim juz 8 halaman 199 no 875 disebutkan bahwa Abu Shodiq tersebut namanya adalah Muslim bin Yazid, ada juga yang menyatakan bahwa namanya adalah Abdullah bin Najidz. Dia meriwayatkan hadits dari ‘Ali secara mursal, maksudnya dia tidak pernah mendengar langsung dari ‘Ali bin Abi Tholib (sebagaimana dijelaskan oleh Abu Haatim ketika ditanya oleh anaknya Ibnu Abi Haatim). Sehingga, dalam sisi ini atsar tersebut terputus sanadnya.

      Dari segi kandungan (matan) kita akan mendapati ketidakshahihan atsar tersebut, di antaranya dari :
      1). Ketidaksesuaiannya dengan konteks ayat yang dibaca oleh Arab Badui tersebut:
      وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
      ” Kalau seandainya mereka ketika mendzhalimi diri mereka sendiri mendatangimu (wahai Muhammad) sehingga mereka meminta ampunan kepada Allah, dan Rasul memintakan ampunan bagi mereka, niscaya mereka akan mendapati Allah sebagai Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”(Q.S AnNisaa':64)
      Ibnu Jarir AtThobary dalam tafsirnya menyatakan :
      ولو أن هؤلاء المنافقين الذين وصف صفتهم في هاتين الآيتين، الذين إذا دعوا إلى حكم الله وحكم رسوله صدوا صدودا، إذ ظلموا أنفسهم باكتسابهم إياها العظيم من الإثم في احتكامهم إلى الطاغوت وصدودهم عن كتاب الله وسنة رسوله، إذا دعوا إليها جاءوك يا محمد حين فعلوا ما فعلوا من مصيرهم إلى الطاغوت، راضين بحكمه دون حكمك جاءوك تائبين منيبين فسألوا الله أن يصفح لهم عن عقوبة ذنبهم بتغطيته عليهم وسأل لهم الله رسوله مثل ذلك، وذلك هو معنى قوله: (فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول)
      ” kalau seandainya orang-orang munafiqin yang Allah sifatkan keadaannya adalam 2 ayat ini yang ketika dipanggil untuk berhukum dengan hukum Allah dan hukum RasulNya, mereka menolak dengan penolakan yang sangat. Jika mereka mendzholimi dirinya sendiri karena melakukan dosa besar dalam hal berhukum dengan thaghut dan penolakan mereka terhadap Kitabullah dan Sunnah RasulNya, ketika dipanggil kepadanya mereka datang kepadamu wahai Muhammad ketika melakukan perbuatan (berhukum dengan ) thaghut, mereka ridla dengan hukumnya selain hukummu, mereka datang kepadamu dalam keadaan bertaubat kembali (kepada Allah), sehingga mereka meminta kepada Allah untuk memaafkan mereka (dengan menghapuskan) siksaan akibat dosa mereka, dengan menutupnya terhadap mereka, dan Rasulullah meminta kepada Allah semisal dengan itu. Demikian itu adalah makna firman Allah : maka mereka meminta ampunan kepada Allah dan Rasul memintakan ampunan bagi mereka”

      Jelas sekali bahwa konteks ayat tersebut adalah untuk seseorang pendosa yang ingin bertaubat,dia meminta ampunan kepada Allah juga dengan mendatangi Rasul semasa hidup beliau agar Nabi memohonkan ampunan baginya. Ayat tersebut merupakan bimbingan dari Allah agar seseorang yang berbuat dosa ‘mendatangi Nabi’, bukan ‘mendatangi makam/kuburan Nabi’. Jika Nabi masih hidup, seseorang bisa datang langsung kepada Nabi untuk memintakan ampunan untuknya kepada Allah. Namun, jikapun seseorang yang berdosa itu tidak mendatangi Nabi, namun memohon ampunan bagi Allah secara langsung, maka yang demikian ini sudah cukup bagi dia.
      Hal ini semakin diperjelas dengan hadits :
      عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، قَالَ : كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ حَرْمَلَةُ بن زَيْدٍ, فَجَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، الإِيمَانُ هَهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى لِسَانِهِ ، وَالنِّفَاقُ هَهُنَا ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ وَلا يَذْكُرُ اللَّهَ إِلا قَلِيلا ، فَسَكَتَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَرَدَّدَ ذَلِكَ عَلَيْهِ ، وَسَكَتَ حَرْمَلَةُ ، فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَرَفِ لِسَانِ حَرْمَلَةَ ، فَقَالَ : ” اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَهُ لِسَانًا صَادِقًا ، وَقَلْبًا شَاكِرًا ، وَارْزُقْهُ حُبِّي وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّنِي ، وَصَيِّرْ أَمْرَهُ إِلَى الْخَيْرِ ” ، فَقَالَ حَرْمَلَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ لِي إِخْوَانًا مُنَافِقِينَ كُنْتُ فِيهِمْ رَأْسًا أَفَلا أَدُلُّكَ عَلَيْهِمْ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لا ، مَنْ جَاءَنَا كَمَا جِئْتَنَا اسْتَغْفَرْنَا لَهُ كَمَا اسْتَغْفَرْنَا لَكَ ، وَمَنْ أَصَرَّ عَلَى ذَنْبِهِ فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِ ، وَلا تَخْرِقْ عَلَى أَحَدٍ سَتْرًا
      ” dari Ibnu Umar -semoga Allah meridlainya- beliau berkata : ‘Aku sedang berada di sisi Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam ketika datang Harmalah bin Zaid. Kemudian dia duduk di depan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia berkata : ‘Wahai Rasulullah, iman itu di sini’. (Ia mengisyaratkan pada lisannya). ‘Sedangkan kemunafikan itu ada di sini. (Ia mengisyaratkan dengan tangannya ke arah dadanya), ‘dan tidaklah berdzikir mengingat Allah kecuali hanya sedikit’. Maka Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam terdiam. Ia mengulanginya, dan Harmalah diam. Kemudian Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam memegang ujung lidah Harmalah dan berdoa : Ya Allah jadikanlah untuknya lisan yang jujur, hati yang bersyukur, dan berikan kepadanya kecintaan kepadaku dan kecintaan kepada orang yang mencintaiku, dan arahkan urusannya pada kebaikan”. Maka Harmalah berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki beberapa saudara munafiq. Aku menjadi pemimpin bagi mereka. Apakah aku tunjukkan pada mereka (untuk mendatangimu juga agar kau doakan)? Maka Nabi shollallaahu ‘alahi wasallam bersabda : ‘Tidak’. Barangsiapa yang datang kepada kami sebagaimana kedatanganmu, kami akan mintakan ampunan untuknya, sebagaimana kami mintakan ampunan untukmu. Barangsiapa yang terus dalam dosanya, maka Allahlah yang lebih berhak terhadapnya. Dan janganlah engkau merobek tirai seorangpun ” (diriwayatkan oleh atThobaroony dalam alMu’jamul Kabiir, al-Haitsamy menyatakan: perawi-perawinya adalah perawi-perawi As-Shohiih. Ibnu Hajar al-‘Asqolaany menyatakan dalam kitab al-Ishoobah (1 /320) : sanadnya tidak mengapa).

      Perhatikanlah saudaraku kaum muslimin…., ketika Harmalah menanyakan kepada Nabi apakah sebaiknya ia beritahukan cara tersebut agar ditiru oleh saudara-saudaranya yang lain, Nabi tidak menganjurkan. Beliau tidak memerintahkannya pada saat beliau hidup, apalagi pada saat beliau meninggal. Sama sekali beliau tidak mengatakan kepada Harmalah : ‘ya, beritahukan kepada mereka semua, dan semua orang yang ada kemunafikan pada dirinya dan banyak berdosa, agar mereka mendatangiku pada saat aku masih hidup, atau jika aku sudah meninggal, silakan mendatangi kuburanku’ atau ucapan semisalnya.

      2) Tidak pernah ternukil dalam riwayat yang shohih ataupun hasan bahwa para Sahabat mencontoh perbuatan orang Arab Badui tersebut. Bahkan Ali bin Abi Tholib yang disebutkan dalam riwayat tersebut juga tidak pernah melakukannya. Silakan tunjukkan pada kami riwayat lain yang shohih ataupun hasan yang mendukung kisah ini, jika anda sekalian -wahai para penentang Ahlussunnah- memilikinya! Tidaklah ada pada kalian kecuali dalil – dalil yang sangat lemah bahkan palsu.

      3) Lebih aneh lagi, dikisahkan dalam riwayat tersebut, bahwa setelah Arab Badui tadi melakukan tawassul di kuburan Nabi, kemudian terdengar suara dari makam Nabi : ‘Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu’.

      Subhaanallah, kedustaan yang luar biasa! Kalau seandainya Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bisa berbicara dari dalam kuburnya, para Sahabat tidak akan hanya bertawassul pada beliau meminta istighfar Nabi jika mereka bersalah, tapi setiap ada permasalahan, mereka akan mendatangi kuburan Nabi, dan itu akan terus berlangsung sampai hari kiamat oleh orang- orang yang beriman. Tidak akan bermasalah penentuan kekhalifahan sepeninggal Nabi, semisal siapa yang akan menggantikan Utsman bin Affan, dan banyak permasalahan- permasalahan penting lainnya, tinggal ditanyakan di kuburan Nabi.

      Masih sangat banyak keanehan – keanehan dari riwayat tersebut, selain telah kami tunjukkan sisi kelemahannya yang sangat dari sisi sanad, namun penjelasan tentang riwayat ini kami cukupkan sampai di sini. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala memberikan petunjukNya kepada kita semua….

      dinukil dari http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1502
      penjelasan lebih lengkap tentang atsar2 atau hadits yg dianggap membolehkan tawasul silahkan merujuk ke situs tersebut.

      mudah2an bermanfaat.

       
  7. tommi

    Oktober 27, 2009 at 1:46 pm

    Jazakumulloh khoir…semoga teman2 yg lain yg membaca bisa saling memetik ibroh. Bahwa ukhuwah harus saling terjaga walau berbeda pendapat. Terima kasih pada sahabat abu merapi atas diskusinya. Ana juga banyak mendapat pelajaran dari pendapat2 antum.

    Semoga kita semua selalu berada dalam naungan Allah Azza wa Jalla dan terhindar dari perpecahan. Amin

     
  8. abu merapi

    Oktober 27, 2009 at 5:28 pm

    A a a m i i i i n
    Sama2 Akhi Tommi…
    Perbedaan di antara umat telah ada sejak zaman salaf, tapi itu bukan alasan utk tidak menjaga ukhuwah.
    Semoga kelak kita bertemu di telaga haud bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam manusia terbaik yg pernah ada di muka bumi ini…
    Jazakumullah…

     
  9. TONO

    Desember 3, 2009 at 12:56 pm

    INDAH BANGET KLW PERBEDAAN DI PANDANG SEBAGAI KARUNIA DARI ALLOH,ITU CERMIN BAHWA KITA SADAR BAHWA UKHUWAH DI ATAS DARI PERBEDAAN.AMIN

     
  10. TONO

    Desember 3, 2009 at 1:03 pm

    ANE MAU NANYA NIH,APAKAH ADA DALIL QUR’ DAN HADIS BAHWA PARA ULAMA/WALI ITU DI SAYANG NABI DAN ALLOH?KALAW ADA TLG QUR’AN SURAT APA JG HDS RIWAYAT SIAPA?MOHON TANGGAPAN JAWABANYA.

     
  11. reza

    Maret 26, 2010 at 2:19 pm

    belajar lagi yang banyak aja baru berbicara, baca kitab jangan cm 1 kitab bung

     
  12. ikhsan

    Agustus 10, 2010 at 2:11 am

    shalawat kepada Nabi adalah bentuk kecintaan kami terhadap Nabi kami. Saya rasa lebih baik melantunkan shalawat yg mendoakan nabi dan pejuang Perang Badar seperti ini daripada musik nasyid biasa. Selamat berbeda pendapat. Baca Kitab-kitab Karya Imam Syafii, Maliki, Hanafi dan Hambali tentang hal ini, jangan cuma Ibnu Taimiyah, dkk biar wawasan kalian lebih luas.

     
    • Abinezmail

      Oktober 27, 2010 at 3:57 pm

      Kalau begitu judulnya “Cinta Yang Buata”

       
  13. Bambang

    Oktober 27, 2010 at 4:04 pm

    Mungkin maksudnya cinta yang buta, kalau sholawat badar gak boleh dibaca (bid’ah) mending lirik lagunya dibalik menjadi : “DARI PADA SHOLAWATAN LEBIH BAIK KITA BERPACARAN”. Betul?

     
  14. Mr. Mahakam

    Desember 14, 2010 at 7:45 pm

    Jangan terlalu banyak menggurui yang bikin orang emosi, sedikit-sedikit bid’ah……..
    Islam itu tidak perlu banyak debat, penting banyak berbuat dan hati bersih sobat……
    Saya tidak terlalu banyak percaya dengan pendapat-pendapat aliran tertentu, sebab terkadang menafsirkan hadist dan ayat hanya menurut kemauan mereka saja……
    Contoh sekarang orang disuruh pamer bahwa dia ahli sujud dan disuruh hitamkan dahinya …. ini metoda siapa ? Rasulullah itu ahli sujud lho tapi tidak ada riwayat yang mengatakan dahi beliau sampai hitam, yang ada kaki beliau sampai bengkak……
    Jadi disini saja sudah terjadi dua kesalahan yaitu :
    1. Kalian salah menafsirkan ayat yang mengatakan bahwa orang ahli sujud itu ada tanda bekas sujud didahinya…….yang bilang itukan Allah jadi tanda itu Allah juga yang tau apakah itu berupa cahaya, gambar terentu atau lainnya, bukan hitam hasil gesekan bung.
    2. Kalian ingin pamer bahwa kalian adalah ahli sujud dan itu apa tidak termasuk ria ?
    Maaf saya agak kasar sebab sering anggota kalian bersifat eksklusif seakan-akan kalian saja yang paling benar padahal belum tentu. Ini masalah keyakinan bung kami juga merasa bahwa kami lebih baik dari kalian dengan keyakinan kami, itu saja terimakasih

     
  15. lilik

    Maret 14, 2011 at 1:04 pm

    mohon izin untuk nimbrung.
    assalamualaikum wr wb
    Terima kasih atas pembelajarannya sangat membantu saya dalam menentukan pilihan dan sikap, soal hitamnya dahi insa alloh tidak di sengaja, untuk ria, jadi bagi yang ahli sujud jangan khawatir kalau dahinya tidak hitam alloh maha tau kok.
    terima kasih.
    wassalamualaikum wr wb

     
  16. Rafi

    Maret 30, 2011 at 3:18 pm

    lah yang bilang bidah ya orang bukan nabi…ya bilang boleh ya orang bukan nabi….kok repot amaat di pikirin lha wong itu syiir kok. dibikin pusing…Prinsip dasar memahami Islam itu ya pada Nabi, lihatlah bagaimana sih nabi bersikap terhadap fenomena alam dan fenomena sosial. Tidak ada yang rumit. Para imam itu generasi jauh dari Nabi, tak mungkin mereka dapat memahami islam secara komplet. dan hukum alam penguasaan agama islam itu jelas, generasi sesudah meemilki kualitas yang lebih buruk dari generasi sebelumnya. Titik terbaik ada di awal yaitu masa Nabi Muhammad, dan titik terburuk ada di akhir di saat menjelang kiamat. maka dari itu, marilah kita belajar islam secara benar,…buka hati dan wawasan seluas-luasnya. ilmu itu tidak cuma ada di satu kitab…apalagi kitab yang dikarang oleh satu arang yang tentu saja dibatasi dengan kadar pengetahuannya…
    satu, lagi…pahamilah budaya arab berbeda dengan islam. apa yang berkembang di tanah arab, belum tentu mencerminkan islam yang sesungguhnya…

     
  17. dk

    Juli 31, 2011 at 9:16 am

    yang penting solat 5 waktu yang wajib dan bersedekahlh…
    bersatulah kau muslimin walmuslimat… persolaaln kecil seperti itu jngn di perdebatkan tuhan 1 yaitu ALLAH SWT.
    hanya ALLAH SWT lah yang tau itu semua..

     
  18. poel

    Agustus 17, 2011 at 3:52 pm

    heheheheeeee,,,,,,,, hidup kok di buat susah sendiri,udah ada alquran dan hadist buat pegangang,ngapain cari kitab2 laen.menurut ane kitab2 laen cuma buat lirikan doank,yang pernah nabi ajarkan ya kita patuhi pula,kalau ingin mendapat pahala lebih bisa kok dengan cara lain tidak musti dengan sholawat badar,*sholat malam pahalanya sribu kali lipat dari solawat badar* itu kata saya bukan kata kyai/ulama,mungkin kalau pendapat ulama bisa terbalik,silahkan anda pilih yang mana,,,,,gitu aja kok repot,,,heheheeee

     
  19. uzumaki@yahoo.com

    Juli 21, 2012 at 4:00 pm

    sesama muslim meskipun berbeda pendapat mari kita jawa ukuwah silaturahim.
    yang penting jangan asal memvonis orang itu bid’ah, syirik dll. amalku itu amalku dan amalmu itu ya amalmu. orang melalukan itu asti ada dasarnya kok. para imam yang memiliki kadar keimanan dan pengetahuan yang melebihi kita dulu aja walaupun saling berbeda tapi tetap menjaga ukuwah. mereka saling menghormati.

     
  20. adi jibek

    Mei 29, 2013 at 6:57 pm

    Alhamdulilah gag saling menghujat
    untuk tambah ilmu coba putar ini http://www.youtube.com/watch?v=RdmY49djdsI
    diskusi tentang Sholawat Badar
    mga bermanfaat

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: