RSS

Kirim Al Fatihah Kepada Arwah Orang Yang Telah Meninggal Dunia

19 Sep

Tanya:

Adakah dalilnya kirim al fatihah kepada arwah orang yang telah meninggal dunia?

Jawab:

Syeikh Abdul Aziz bin Bazz pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa, dan beliau menjawab:  “Perbuatan ini dan yang serupa itu tidak ada asalnya, tidak diketahui bahwa itu berasal dari Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam dan tidak diriwayatkan pula dari sahabat beliau Shallalahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka membacakan Al-Qur’an untuk orang yang telah meninggal dunia, bahkan Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka itu tertolak” [Dikeluarkan oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyyah (18-1718)

Disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunannya) padanya, maka ia tertolak” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697), Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718)]

Dalam Shahih Muslim disebutkan, dari Jabir bahwa dalam salah satu khutbah Jum’at Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-sebaik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Shallalahu ‘alaihi wasallam, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru (bid’ah)adalah sesat” [Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Jumu’ah 867]

An-Nasa’i menambahkan pada riwayat ini dengan isnad shahih:

وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

“Dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka” [Hadits Riwayat Nasa’i dalam Al-Idain 1578, dishahihkan oleh Syeikh Albani]

Adapun bersedekah atas nama si mayat dan mendo’akannya, bisa berguna baginya dan sampai kepadanya menurut ijma’ kaum msulimin. Hanya Allah-lah yang kuasa memberi petunjuk dan Hanya Allah-lah tempat meminta. [Kitab Ad-Da’wah, Juz 1, hal.215, Syaikh Ibnu Baz]

 
45 Komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2008 in Tauhid

 

45 responses to “Kirim Al Fatihah Kepada Arwah Orang Yang Telah Meninggal Dunia

  1. makmuri

    Januari 23, 2009 at 8:57 am

    kETIDAK TAHUAN ANDA TENTANG HUJAH TSB, ITULAH KEBODOHAN DAN KETOLOLAN ANDA. UNTUK ITU SAYA SARAN KAN AGAR ANDA BELAJAR MEMBACA aL QUR AN DAN AL KHADIST SERTA BELAJAR ARTI YANG ANDA BACA (AL QUR AN & AL KHADIST) NANTI BARU TAHU DAN BISA ANDA MEMBERI HUKUMNYA. OK

     
    • wito

      Juli 25, 2011 at 10:30 am

      Bung Makmuri…
      Al-Khadist tidak yang ada yg benar adalah Hadits. Anda orang Jawa ya ?

       
      • prasetyo

        Desember 4, 2013 at 9:33 pm

        kalau orang jawa kenapa bong apa ada bedanya

         
  2. makmuri

    Januari 23, 2009 at 9:02 am

    anda musti harus belajar tentang Al Qur an dan al Khadist serta Ijma dan Qiyas. baru anda bisa menghukumi ( memberi hujjah hukum ttg perbuatan tsb ) akuilah ilmu anda amat sangat DANGKAL sekali.jangan cuma berkekal taklid dan cuma sekedar dengar dari mubalieg karbitan lantas anda sudah bisa menghukuminya. masih jauuuuuh coook

     
    • suntoro

      Oktober 17, 2009 at 1:17 pm

      dari ucapan Anda yg kasar, menunjukkan Anda bukan Muslim yg cerdas…., tanpa nash naqli pun orang udah bisa mikir, bahwa al patekah itu gak bisa dikirim kirimin kayak gitu, …itu mah…kampungan banget……makanya…jangan banyak-banyak makan bid’ah…..jadi gak iso mikir lurus…..sama kayak loe banyak makan riba’…..jadi gila nanti

       
      • wito

        Juli 25, 2011 at 10:27 am

        Bung Suntoro….
        Anda menulis Al-Fatihah saja nggak benar

         
      • Cak ipin

        Agustus 9, 2011 at 12:37 pm

        Bung Wito, anda terlalu saklek bung… adanya al patekah karena adanya Al-Khadist… wkkkk

         
  3. fahmi ismail

    Februari 14, 2009 at 4:47 pm

    saya penggemar ibnu taimiyah,khususnya dalam ilmu kalam dan saya sarjana.
    Pernahkah anda membaca kitab majmu fatawa, sampai habis ?
    lantas anda bisa menyimpulkannya ?.
    Ingat ! kitab ibnu taimiyah, banyak yang tidak lengkap sesuai manuskrip aslinya.
    Saya khawatir propaganda anda memerangi bidah, tapi anda lebih bidah ketimbang bidah itu sendiri. Saya kawatir dibelakang anda, orang yahudi sebagai dalangnya, sehingga ummat islam hanya disibukkan oleh masalah2 kecil, dan tak sempat memikirkan ketertinggalannya, seperti di bidang IPTEK. Inikah anda inginkan ?.
    Saya capek dan bosan mendengarnya.
    Lebih baik anda dawahi pemerintah anda sendiri, janganlah menjadi kacung Amerika dan Yahudi, ini sehebat-hebat bidah yang ada di pelanet ini. berani anda ?.

     
    • ghufron

      Oktober 20, 2009 at 7:13 pm

      Anda mengaku2 sarjana, tp anda begitu mudahnya OOT. Wong yg dibahas mengenai kirim al fatihah kok tau2 sok menasihati yg punya blog??? Yg dibahas al fatihah kok tau2 ke majmu fatawa ibnu taimiyah, sampe2 ujung2nya nyambung ke yahudi, weleh2x…Klo memang ga suka, bantahlah dengan dalil om, jgn dengan emosi.

      Saya malah lebih capek membaca komen2 spt ini, yg amat sangat tinggi hati sampe2 nasihat dari sodaranya sesama muslim dibuang seenaknya ke tong sampah…!

      Berkaca dululah anda fahmi, baru komen…masih untung yg punya blog ramah, komen anda tidak di-spamkan…!

       
      • akang oyan

        Mei 9, 2014 at 9:17 am

        Saudaraku gufran, janganlan kau maki2 orang yang mengatakan hal sebenarnya, cobalah baca litelatur wahabi salafi yg benar, terus anda renungkan mana yg benar apa dibalik maksud m3mbidahkan mengkafirkan dll.
        Yang benar dan baik diantara kita ketika melihat dalil atau hadits bukan dari soheh atau doifnya karena itu shoheh/doif bersifat relatif tergantung siapa yg m3ngeluarkan dan siapa yg menilai, tapi yg baik itu mamfaat atau tidak kalau mamfaat ambil lakukan kalau engga tinggalkan, Allah swt itu menghargai kerja dan semangat serta cinta kita kepadanya bukan menilai seseorang itu Hebat dalilnya atau engga.
        Saran saya dari pada saling menghina dan menjatuhkan lebih baik berlomba2 memperbanyak amalan untuk kita hidup nanti tak usah sibuk mikirin kesalahan orang lain sementara kekurangan kita tidak terperhatikan hingga terus diisi dengan penyakit hati menganggap orang lain salah terus diri sendiri yg paling benar “berbahagialah orang yg sibuk memikirkan kesalahan dan kekurangan sendiri hingga ta sempat untuk menilai kekurangan orang lain.
        Amalkan apa yg kita yakini kebenarannya Biarlah orang lain mengamalkan apa yg mereka yakini tanpa harus kita ganggu dan kita hujat, kan pengganggu dan penghujat itu adalah akhlaq setan atau iblis laknatullah alaih waman awanahu waman atbaahu,
        Hiduplah saling berdampingan dan saling menghormati ciptakan lingkungan islam ini lingkungan yg berakhlaq, iman yang sempurna adalah yg mampu mencintai dan menyayangi orang lain sperti kpd dirinya sendiri

         
    • Cak Ipin

      Agustus 9, 2011 at 12:39 pm

      Sarjana…? bahasa dan bahasannya koq kayak orang gak pernah sekolah…. Capek deh….

       
  4. dialogimani

    Februari 17, 2009 at 11:51 am

    Cerminan seorang muslim yang baik adalah dari kelembutan tutur katanya. Kami berusaha semaksimal mungkin, untuk dalam menjawab setiap permasalahan untuk disertai dengan rujukan. Jika kemudian ada yang kurang benar, maka itu adalah kekurangan kami. Anda semua berkewajiban memperingatkan kami.
    Adapun jawaban di atas adalah berasal dari Syaikh Bin Baz rahimahullah. Terima kasih atas saran dan komentar Bapak. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua. Amin

     
  5. doenan

    Mei 18, 2009 at 1:22 pm

    Saudaraku! Islam adalah agama yang menanamkan kelembutan dalam segala hal,Ane sangat menghargai komentar dari setiap saudara-saudaraku, tetapi alangkah indahnya jika setiap perkataan kita menjadi cerminan indah dan lembutnya islam,..betapa banyak perbuatan yang dilakukan saudara-saudara kita justru karena ketidak fahaman mereka dan menjadi kewajiban bagi kita untuk saling memberi tahu dan tolong menolong dalam kebaikan…Sukron..

     
  6. Miftahuddin Al Ayubi

    Mei 19, 2009 at 2:40 am

    nabi muhamad selalu mengajarkan kelembutan dan beradab sopan dalm tutur kata, ini adl forum yg d bc smua saya slaku orang muslim brhrap agar pra komentator muslim cara berkomentar yg sopan agar citra islam tetap baik dan tidak tercoreng
    thanks

     
  7. hendra

    Juli 17, 2009 at 10:48 am

    Sdr. makmuri yang sarjana, saya yakin ‘ilmu anda tinggi…setinggi hati anda. Allah tidak suka orang yang tinggi hati. Saya juga yakin bahwa anda pasti tahu bahwa salah satu sifat Rasulullah SAW. adalah Fathonah, suatu sifat yang perlu anda miliki juga, sebagai ummat Muhammad SAW.
    IBLIS yang diciptakan jauh sebelum penciptaan Adam AS, pernah menjadi guru para malaikat, itu artinya bahwa ia memiliki ilmu yg lebih tinggi daripada para malaikat dan Adam AS, namun karena Iblis tinggi hati, maka ia dimurkai Allah. Semoga anda tidak termasuk yang dimurkai Allah. Amin.-

     
  8. dan

    September 21, 2009 at 7:41 am

    semoga Allah ta’ala memberi kita hidayah…

    apakah Anda mempunyai pembahasan hal ini oleh ulama lainnya?

     
  9. Mohtar

    Oktober 15, 2009 at 7:52 pm

    Bahasa atau tutur kata adalah cermin hati kita. Kalau seseorang berkata dengan lembut dan sopan, maka kemungkinan besar itulah gambaran hati dia. Tapi kalau seseorang berbicara dengan bahasa yang kasar dan tidak islami, maka itu pulalah cermin hati ahlaqnya.Untuk itu, marilah kita sikapi perbedaan ini denga dewasa dan akal cerdas. Bukan dengan cemoohan dan makian. Dan jangan mudah menuduh orang yang tidak sefaham dengan kita. Mudah-mudah kita mendapat petunjuk dari Allah SWT.

     
  10. karlan setiawan

    Oktober 21, 2009 at 11:23 am

    saya mengutip sebuah hadis”orang yang meninggal dunia akan terputus amalnya kecuali 3 perkara: 1.sodaqah jariyah,2.ilmu yang bermanfaat,3.anak yang sholeh yang selalu mendoakannya.yang mmungkin bisa dijelaskan.bahwa ketiga faktor dalam hadits diatas,akan terus mengalir pahalanya sampai orang masuk liang lahat.yah berarti kalu kita mendoakan orng yang telah mati doanya akan nyampe,dan sodaqoh yang diberikan atas namanya juga akan nyampe.

     
  11. karlan setiawan

    Oktober 21, 2009 at 11:29 am

    wallahua’lam allah lah yang maha tahu atas segala apa yang kita perbuat.

     
  12. karlan setiawan

    Oktober 21, 2009 at 11:31 am

    wallahua’lam Allah yang maha tahu atas segala apa yang kita perbuat.

     
  13. abu merapi

    Oktober 21, 2009 at 8:36 pm

    Bagaimana pendapat antum tentang riwayat ini, benar atau tidak…

    Dari Kitab Al-Ruh oleh Imam Ibnu Qayyim halaman 11-13

    Pernah aku bersama Imam Ahmad bin Hambal dan Muhammad bin Qudomah Al-Jauhari menghadiri jenazah, maka ketika mayyit dimakamkan seseorang lelaki kurus membaca duduk disamping kubur sambil membaca Al-Qur’an. Melihat hal itu Imam Ahmad berkata Hai sesungguhnya membaca Al-Qur’an disamping kubur itu bid’ah.

    Maka ketika kami keluar dari kubur berkatalah Muhammad bin Qudomah kepada Imam Ahmad bin Hambal. Wahai Abu Abdillah bagaimana pendapatmu mengenai Mubassyar Al-Halabi? Imam Ahmad menjawab : Beliau orang yang Tsiqah, apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya ? Muhammad bin Qudomah menjawab : Ya, mengabarkan kepadaku Mubassyar dari Abdurrahman bin Ala’ bin Lajlaj dari bapaknya bahwa ia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan disamping kepalanya permulaan Surat Al-Baqarah dan akhirnya dan dia berkata : Aku telah mendengar Ibnu Umar ra berwasiat dengan yang demikian. Mendengar riwayat itu Imam Ahmad berkata : Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar meneruskan bacaan Al-Qur’annya.

     
    • ibnu djalil

      Oktober 22, 2009 at 9:35 pm

      Riwayat itu tetap tidak bisa dijadikan sandaran bahwa membaca al quran di kuburan itu adalah sunnah karena riwayat atsar tersebut hanya sampai pada Ibnu Amr (setahu saya atsar ini riwayat Ibnu Amr, bukan Ibnu Umar, mohon koreksi bila salah), lagipula itu hanyalah wasiat beliau dan tidak dinisbatkan pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Lihatlah zhohir haditsnya akhi.

      Para Imam mazhab yg 4 berbeda2 pendapat dalam hal ini:
      1. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad memakruhkannya. Adapun Imam Ahmad pada riwayat terakhirnya memberikan keringanan membaca al qur’an di kuburan berdasarkan atsar yg antum sebut. Mereka yg memakruhkan berdalil bahwa tidak adanya riwayat yg shahih dari Rasulullah mengenai disunnahkannya membaca al quran di kuburan (Fiqhus Sunnah 1)
      2. Imam Syafi’i membolehkannya membaca al quran bila mayat HENDAK dikuburkan. Bila sudah dikuburkan, hukumnya makruh. Dan pendapat kedua inilah yg dinilai paling tepat oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

      Adapun sikap kita menyikapi perbedaan pendapat ini adalah kita ambil jalan tengah, lebih baik kita kembalikan pada Allah dan RasulNya. Allah Azza wa Jalla telah berfirman mengenai hikmah diturunkannya Al Quran :
      1. “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” QS Al Baqoroh ayat 2.
      2. “(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. ” QS Ali Imron ayat 138.
      3. “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” QS Al Maidah ayat 16.
      4. “Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya, Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” QS Yaasiin ayat 69-70.
      5. Dan sebuah hadits yg sudah terkenal, “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan, sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surah Al-Baqarah”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 780.

      Sesungguhnya dari 4 contoh ayat ini, bisalah kita tarik kesimpulan bahwa hikmah Al Quran sesungguhnya adalah untuk orang yg masih hidup agar datanglah petunjuk Allah kepadanya. Karena Al Quran itu adalah petunjuk bagi org2 yg bertaqwa dan sudah jelaslah bagi kita, makna bertaqwa disini adalah untuk org2 yg masih hidup. Org mati sudah tidak mungkin lagi bertaqwa karena segala amalnya sudah terputus kecuali 3 hal berdasarkan dalil qoth’i dari hadits : sedekah jariyah, ilmu yg bermanfaat yg diturunkan pada murid2nya dan do’a dari anaknya yg sholih. Cukuplah kita amalkan hadits shohih ini saja dan kita baca al quran di rumah (berdasarkan hadits no. 5, hadits tersebut juga menjadi hujjah bahwa tidaklah tepat membaca al quran di kuburan) lalu kita do’akan arwah org2 yg telah meninggal agar dilapangkan kuburnya, diringankan siksa kuburnya, diampuni dosa2nya dan diterima amal ibadahnya selama didunia.

      Namun demikian, hendaknya yg perlu ditekankan adalah kita tidak perlu berselisih dengan org2 yg berpendapat sunnahnya membaca al quran di kuburan. Cukupkanlah diri kita dengan petunjuk yg berasal dari Al quran dan hadits2 shohih serta petunjuk salafus sholih. Dan bila ada perselisihan hendaknya kita kembalikan pada Allah dan RasulNya. Afwan, bila ada kata2 salah.

      NB : Mengenai hadits, “…bacakanlah surat Yasin kepada orang2 yg meninggal diantara kalian,” Ini adalah hadits dho’if yg bermasalah pada sanad dan riwayatnya, bahkan beberapa hadits serupa mengenai fadhillah surat Yasin adalah hadits maudhu’ (palsu). Takhrij dan penjelasannya bisa dilihat disini : http://muslim.or.id/manhaj/derajat-hadits-fadhilah-surat-yasin.html

      Semoga Allah Jalla wa ‘Alla memberikan taufik dan hidayahNya pada saya dan pada kita semua. Amin.

       
      • ibnu djalil

        Oktober 23, 2009 at 8:54 am

        Afwan, ada koreksi sedikit. Memang benar bahwa riwayat atsar yg disebutkan oleh abu merapi adalah riwayat Ibnu Umar, bukan Ibnu Amr. Syukron Jazakumulloh.

         
      • febry

        November 9, 2010 at 4:27 pm

        maaf…,hadist kadang atau bisa dikatakan sering dikatakan dhoif oleh berlainan perawinya…paham…maka ada yang namanya ilmu mustholahul hadist…anda harus obyektif menghadapi masalah kirim fatihah ini…Yang jelas tidak semua yang belum diucapkan,diperbuat,didiamkan oleh Nabi SAW,adalah dihukumi bid’ah dholalah…bagaimana dengan pembukuan atau pengumpulan hadist ,bagaimana dng pembukuan Al-Qur’an,..bukankah Nabi tidak pernah menyuruh kita atau sahabat beliau..apakah anda akan mengatakan ini bid’ah dholalah…???Ulama ahlu sunnah wal jamaah itu gak goblok spt anda pikirkan…Apakah anda akan mengatakan anda lebih pandai dari KH.Hasyim Asyari yang udah hapal ribuan hadist,bahkan dijuluki amirul hadist dikala itu.Apakah anda lebih pandai dari Habib Luthfy bin Yahya,Pekalongan..kalo mmg msh sangsi sulakan dialog face to face dgn beliau..(maaf bknx saya adu domba)…perbedaan adalah rahmat..jangan mudah menuduh org beriman mnjadi musyrik.

         
  14. abu merapi

    Oktober 24, 2009 at 9:59 am

    Akh ibnu jalil: “Cukupkanlah diri kita dengan petunjuk yg berasal dari Al quran dan hadits2 shohih serta petunjuk salafus sholih.”
    Ibnu Umar adalah salah seorang salafus sholih (dan rasanya tak mungkin beliau melakukan sesuatu yg asal2an). Maka tak salah jika sebagian muslim mengikuti jejak beliau.
    Semoga sesama muslim bisa menghargai perbedaan.
    Jazakumullah

     
  15. ibnu djalil

    Oktober 25, 2009 at 9:19 am

    @akhi abu merapi sahabatku :
    Memang tidaklah salah, oleh karena itu kita tidaklah perlu berselisih panjang soal ini. Adapun janganlah mengatakan membaca Al Qur’an di kuburan itu sunnah Nabi karena Ibnu Umar pun tidak menisbatkan perbuatan itu pada Nabi Shallallahu alaihi Wassalam, tetapi beliau hanya membolehkan saja. Demikianlah. Wallahu a’lam. Semoga kita semua tambah bersemangat dalam beribadah dan Allah meridhoi ibadah kita. Amin

     
    • abu merapi

      Oktober 25, 2009 at 4:14 pm

      @Akh ibnu jalil (barakallah fik):
      Aaamiiin…
      Terima kasih
      Pertama mungkin perlu digarisbawahi saya dlm hal ini blm prnah menulis bhwa membaca quran di kuburan itu sunnah Nabi atau dinisbatkan kepada Nabi..
      Kedua, sebagai koreksi di riwayat tsb disebutkan …Aku telah mendengar Ibnu Umar ra berwasiat…
      Tentu arti “berwasiat” berbeda dengan “membolehkan”.
      Sebagaimana si fulan mewasiatkan suatu permintaan kepada seseorang utk melakukan sesuatu apabila si fulan telah meninggal.
      Wallahu a’lam
      However, walaupun di antara muslim terdapat perbedaan smg tetap terjalin ukhuwah.
      Semoga kelak kita bs bertemu di telaga haud bersama Rasulullah makhluk termulia di dunia ini..
      Allahumma shalli ‘ala Muhammada wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in…
      Mohon maaf bila ada salah kata (maklum saya insan biasa masih prlu belajar banyak)
      Jazakumullah

       
  16. HAMBA ALLAH

    Desember 20, 2009 at 1:46 pm

    Astaghfirullaallahal-‘azhiim…,
    Ya Allah ya tuhan kami.. engkaulah yang menguasai jagat raya ini,
    jauhkanlah saudara-saudara hamba dari riya’… ya Allah.

    amin3x.

     
  17. dimar

    Desember 30, 2009 at 11:34 am

    Nabi/Rosul itu bukan Tuhan, apa yang ditolak Nabi/Rosul belum tentu ditolak Tuhan (terimalah kenyataan itu); hadapilah hidup ini dengan bersihnya akal, hati, dan perut dan berlandaskan kepada kitab agama; saling menyalahkan, memaki bukanlah jalan yang baik karena yang rugi pasti diri dimana perkataan itu keluar; selalulah berbuat baik dan memaafkan.

     
  18. abdullah tabarok

    Februari 23, 2010 at 2:53 pm

    Yang kirim fatihah sampe,..jalankan aja dan niatkan pahalanya sampe ke pada si mayit
    Yang ga percaya fatihah ga sampe,.ga boleh ngelarang yang kirim fatihah sampe,..

    masing-masing punya hadits,..punya guru,..bukankan perbedaan itu indah,..coba kalo wanita semua sama kan ga enak,..tapi kalo beda2 lebih indah,…

     
    • tiok

      Juli 27, 2010 at 6:04 pm

      setuju yang diatas nee…
      masing-masing punya hadits,..punya guru,..bukankan perbedaan itu indah,..
      coba kalo wanita semua sama kan ga enak,..tapi kalo beda2 lebih indah,

       
      • muhammad mustangin

        Desember 16, 2010 at 3:03 pm

        ya saya setuju bahkan klo bisa saling membantu juga kann?

         
  19. haikal

    Maret 24, 2010 at 10:36 am

    yang penting kita jaga keharmonisan dan toleransi sesama islam dalam menjalankan ibadah.

     
  20. Mirhanudin

    Mei 2, 2010 at 5:50 pm

    Astagfirllahaladzim yang benar yang mana ini….

     
    • muhammad mustangin

      Desember 16, 2010 at 2:45 pm

      saling menghargai dan yakinlah pda dirimu sendiri karna alloh swt

       
    • soeloeng

      Juni 15, 2011 at 5:33 pm

      yang benar? .. yaa banyak2 ber-amal shalih donk, bukan sprt sodara2 kita tuh…. ber-amal ko’ ngirit!
      di KORUPSI lagi!!!….

      Wassslm

       
  21. raihan

    Juni 29, 2010 at 8:04 am

    kenapa yach di akhir zaman banyak orang2 yg menganggap dirinya paling benar, padahal kita hidup butuh keridhoaan dr Allah SWT,kenapa harus di perdebatkan?bagaimana mau masuk surga kl selalu ada perdebatan seakan2 ada yg paling bener. buka mata masih banyak bid’ah2 yg hrs di jadikan rujukan, kenapa ga ada yg bilang acra2 band2 di tv bid’ah, knp banyak wanita yg pake rok mini tdk ada yg saling mengingtkan, knp perzinahan masih banyak. akidah siapa yg hancur sebenrnya? yakini apa yg anda yakinin tp ga perlu mengagap diri anda paling benar…toch yg tau hanya Allah SWT?

     
  22. muhammad mustangin

    Desember 16, 2010 at 2:44 pm

    ni pastu antara nu dan muhammadiyah”sarankuu ‘umatislamitu saling menghargai kan?’

     
  23. toel

    Maret 1, 2011 at 5:13 pm

    ‘Audubillah himinas syaiton nirojim, Asthofirulloh hal aziim
    tolong dipahami yang benar apa yang terkandung dalam surat Al fatihah.

     
  24. khaira

    Maret 6, 2011 at 10:28 pm

    Iblis itu bs masuk dr lubuk hati. dimana kita menganggap kita yg plg bnr..mk disitulah kekeliruan itu menebal. Keyakinan itu gkbs dipaksakan…Smoga segalanya bs menambah wawasan kita utk saling mengisi.

     
  25. bagus

    Juni 25, 2013 at 9:05 pm

    hi hi , semua yang memberi komentar dan yg membuat makalah pinter kabeh. …

     
  26. bagus

    Juni 25, 2013 at 9:17 pm

    siapa yang bisa bantu , kalau baca alfatehah itu doa apa bukan ya?.

     
  27. gondho

    Oktober 9, 2013 at 10:51 pm

    semoga Allah ta’ala memberi kita
    hidayah…

     
  28. noval

    Juni 4, 2014 at 2:02 pm

    sok tahu anda baca dong kitab kitab para ulama belajar lagi sana

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: